Kamis, 26 November 2020

PANDUAN SEDERHANA MEMBUAT KARANGAN MILITER

Segala tingkah laku dan perbuatan dalam dunia kemiliteran diatur sedemikian rupa, termasuk ketika seseorang ingin mengungkapkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan, tulisan seperti itu disebut artikel/esai atau karangan militer.

Penyampaian suatu ide atau gagasan seorang anggota militer dapat dilakukan melalui karya tulis ilmiah yang disusun sedemikian rupa sehingga ide atau gagasan tersebut dapat dibaca dan dipahami dengan benar dan sesuai dengan kepribadian prajurit.

Artikel ilmiah / tulisan militer tersebut dapat berupa karangan militer atau disingkat karmil dan esai militer (biasanya dalam konteks pelajaran membuat pada mata pelajaran kemiliteran).

Apakah esai atau karangan militer itu?

Secara umum menulis esai adalah cara yang tepat untuk mengungkapkan pendapat seorang penulis secara bebas, termasuk membuat judul secara bebas, lugas dan mudah dipahami.

Sementara di TNI AD, tulisan dalam bentuk esai militer pada dasarnya lebih mengikuti kaidah dan terbatas, dengan judul yang sederhana mudah dipahami dan biasanya mengandung gagasan atau bersifat saran yang konstruktif.

Selanjutnya mari kita simak kaidah membuat suatu karangan/esai militer,

Karmil atau karangan militer (Military Essay) adalah suatu bentuk tulisan yang menjadi media komunikasi untuk mengungkapkan gagasan, saran, dan kesimpulan tertulis secara jelas, ringkas, logis, dan mudah dipahami khususnya dalam lingkungan militer.

Dalam penulisan esai militer atau Karmil, terdapat beberapa elemen yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Identifikasi masalah yang akan ditulis,
  • Fakta atau informasi yang tersedia serta solusi yang akan digunakan dan,
  • Pengujian solusi yang dipilih.

Beberapa langkah menulis esai militer atau karmil sebagai berikut:

1. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat pola pikir (mind map) atau pemetaan pikiran dalam rangka mengungkapan gagasan atau ide dari esai atau karmil yang akan ditulis, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Menentuan tujuan dari tulisan
  • Membuat batasan atau ruang lingkup penulisan esai/karmil tersebut.
  • Mempertimbangkan bahwa tulisan tersebut ditujukan kepada siapa atau siapa target pembacanya.

2. Mulai menulis dengan mengumpulkan bahan tulisan yang diawali dengan membuat kerangka tulisan agar mudah menerapkan pola pikir yang sudah kita buat sejak awal. Kemudian bandingkan dengan tulisan-tulisan yang sudah pernah dibuat oleh orang lain dan baca kembali atau review tulisan yang sedang kita buat sehingga tidak keluar dari pola pikir dan ruang lingkup penulisan.

Mari mulai menulis:

Secara umum bentuk tulisan militer sebagai berikut:

1. Bagian pertama, Bab Pendahuluan terdiri dari:

  • Umum (tulisan pembuka sebagai pengantar)
  • Maksud (maksud membuat tulisan tersebut)
  • Tujuan (tujuan penulisan)
  • Ruang lingkup (batasan penulisan)
  • Pendekatan (perspektif penulisan)

2. Bagian kedua adalah bagian inti atau pembahasan:

  • Pada bab ini penulis akan mengurai gagasan atau ide.
  • Tulisan dapat dikembangkan dengan tetap mengikuti alur ide dan ringkas
  • Tulisan harus jelas tidak berbeli-belit serta sederhana
  • Pembahasan ide ditulis sebaiknya secara menyeluruh tidak sepotong-sepotong sehingga membingungkan pembaca.

3. Bagian ketiga atau Bab Kesimpulan dan Rekomendasi:

  • Merupakan kesimpulan terhadap tulisan ini,
  • Bagian ini memberikan solusi atau ide baru dari masalah yang ada pada pembahasan pada bab-bab sebelumnya.

 

Bagaimana cara membuat judul karmil ? :

Judul karmil atau esai militer tidak dibuat sama seperti pada tulisan bebas tetapi mempunyai pertimbangan pada variabel dalam kalimat pada judul. dala tulisan ini kami akan mengurainya dengan tidak memberikan singkatan agar tidak membingungkan pembaca seperti:

·         Variabel 1 (Kata kunci 1) yang berfungsi sebagai variabel tetap,

·         Variabel 2 (Kata Kunci-2) yang berfungsi sebagai variabel bebas.

Susunan variabel 1 berasal dari penurunan (uraian asumsi) subyek proposisi, sedangkan susunan variabel 2 diperoleh dari penurunan (uraian asumsi) predikat proposisi yang sudah dipilih.

Selanjutnya jika kedua variabel tersebut disusun atau digabungkan maka akan didapat satu Judul. Judul inilah yang bisa angkat sebagai judul dari karangan militer atau esai militer yang sedang dibuat. Hasil penggabungan kedua variabel tersebut menjadi rumusan kalimat baru yang berfungsi untuk menjelaskan topik dari tulisan militer atau karangan militer yang sedang dibuat yang kemudian dituangkan secara sederhana, ringkas, jelas dan mudah dipahami.

 

Cara Menulis Karmil :

Dalam menulis Karmil atau essai militer terdapat kaidah yang menjadi pedoman penulisan karmil atau esai militer seperti yang diuraikan dibawah ini:

1) Setelah membahas judul dan bagaimana membuat judul diatas kita dapat melihat bahwa judul memberikan informasi awal dari isi tulisan secara menyeluruh, dimana sudah kita pahami terdapat 2 variabel yaitu variabel 1 dan variabel 2. Dimana variabel-variabel tersebut merupakan uraian penjelasan dari materi atau subyek proposisi dan predikat proposisi yang sudah kita pilih.

2) Selanjutnya setelah membahas judul kita masuk pada cara membuat Bagian Pendahuluan yang disusun meliputi :

  • Paragraf pertama membahas tentang alasan atau latar belakang penulisan yang mengacu pada kondisi atau keadaan saat ini, tentunya berhubungan dengan variabel 1 (kata kunci 1 pada judul) yang diangkat sebagai pokok bahasan.
  • Bagian kedua atau paragraf kedua berisi tentang sesuatu yang kontradiktif atau adanya masalah dalam kaitannya dengan variabel 1 atau kata kunci 1 yaitu adanya asumsi bahwa masalah akan berdampak buruk atau negatif pada variabel 2 (kata kunci 2)
  • Pada bagian ketiga atau paragraf ketiga penulis mengungkapkan bahwa harus ada solusi dan pentingnya langkah-langkah pemecahan masalah.
  • Bagian ke empat atau paragraf empat penulis menyinggung atau membahas maksud, tujuan dan ruang lingkup dari tulisannya.
  • Bagian kelima atau paragraf terakhir penulis menjabarkan dasar atau landasan berpikir dalam rangka mendapatkan solusi guna memdapatkan keadaan yang lebih baik.

 3) Bab Pembahasan

Pada bagian pertama bab ini diuraikan keinginan atau kondisi yang ideal / harapan / keadaan yang diharapkan agar dapat tercapat seperti pada variabel 2 (kata kunci 2). Dengan anggapan bahwa kondisi ideal tersebut bisa terwujud sebagai hasil pelaksanaan variabel 1 pada judul diatas. Penulisan paragraf selanjutnya, dapat diolah oleh penulis dengan tidak terlepas dari kerangka berpikir yang sudah disusun serta tetap berpegang pada variabel-variabel dalam judul tulisan. Penulisan yang runut dan terstrukur akan memudahkan pembaca mengerti maksud tulisan tersebut.

Pada pembahasan berikutnya, yaitu setelah mengurai kondisi ideal maka penulis selanjutnya akan menggambarkan keadaan atau kondisi nyata yang terjadi yang merupakan fakta dengan asumsi bahwa kondisi nyata tersebut masih dapat diperbaiki dimana kondisi-kondisi tersebut merupakan pengaruh perkembangan lingkungan / faktor-faktor dalam variabel 1 yang berdampak negatif pada obyek guna mencapai variabel 2

Dalam penulisan selanjutnya, variabel 1 yang adalah varibel tetap dalam penulisan dapat digunakan dalam pengembangan tulisan. Sehingga perlu solusi untuk mencapai kondisi pada variabel 1.

Dalam bagian pembahasan dapat diurai aspek-aspek (tentunya yang dipilih penulis) untuk dijadikan fokus tulisan sebagai solusi dari masalah yang ada. Masalah yang dimaksud adalah kondisi seperti yang sudah dijelaskan pada bagian Pendahuluan.

Di bagian akhir pembahasan penulis diharapkan dapat mengantarkan pembaca pada jawaban seperti yang digambarkan pada judul yaitu apa jalan keluar terhadap kondisi saat ini serta perlunya satu solusi yang konstruktif.

Kesimpulan dan Saran dapat dibuat sebagai rangkuman tulisan dan apa saran yang bisa diberikan mengacu pada pembahasan diatas.


Membuat Kesimpulan:

Dalam membuat kesimpulan seperti yang sudah sedikit diurai diatas, maka secara umum kesimpulan dapat dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu:

Pada bagian pertama, penulis dapat memberikan uraian secara singkat tentang segala sesuatu untuk menjawab judul dari tulisan atau karangan (esai) militer dimana juga digambarkan kondisi yang secara nyata terjadi dan dari kondisi tersebut dibutuhkan solusi berupa tindakan nyata sebagai wujud dari usulan atau ide penulisan karmil yang sedang ditulis.

Di bagian kedua, diuraikan secara singkat bagaimana peluang untuk mengatasi kondisi atau masalah demi tercapainya kondisi pada variabel 1,maka diperlukan langkah-langkah apa saja agar dapat dicapai sasaran pada variabel 2.

Di bagian akhir atau bagian ketiga, dapat diuraikan dengan singkat apa langkah implementasi atau metode-metode yang harus dilakukan variabel 1 dalam rangka mencapai sasaran pada variabel 2.


Demikian tulisan ini semoga bermanfaat, bagi yang sedang menjalankan pendidikan atau ujian pada jenjang tertentu di lingkungan TNI-AD tentunya bentuk atau format dan kaidah yang sudah ditentukan harus dipatuhi guna mencapai tujuannya, tetapi jika anda yang suka menulis demi kemajuan TNI-AD maka tulisan ini hanya akan menjadi pertimbangan dalam menyampaikan ide atau gagasan tertulis. Semoga pengembangan pikiran kreatif dan ide-ide anda sekalian dapat lebih berkembang secara positif demi kemajuan TNI khususnya TNI-AD.


Sekian

 

Kamis, 19 November 2020

Kekuatan Militer Indonesia di antara Militer Negara ASEAN

Militer Indonesia
sumber foto: demokrasi.co.id


Pada usia yang 74 tahun ini, kekuatan militer Indonesia sudah diperhitungkan di negara-negara di dunia. Hal tersebut terlihat dari hasil survei Global Firepower 2019 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-16 dari 137 negara di dunia. Indeks Kekuatan Militer (PwrIndx) Indonesia berada di level 0.2804. Posisi tersebut berada di bawah Pakistan, tetapi lebih tinggi dari Israel dan Korea Utara. Amerika Serikat (AS) tetap menjadi negara dengan kekuatan militer tertinggi dengan PwrIndx 0,0615. Rusia menempati urutan kedua dengan PwrIndx 0,0639 dan Cina dengan PwrIndx 0,0673 ketiga.

 Di Asia, kekuatan militer Indonesia menempati urutan ketujuh, sedangkan di Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan pertama. Perlu dicatat bahwa evaluasi PwrIndx menggunakan lebih dari 55 indikator, semakin mendekati 0 maka semakin sempurna kekuatan militer suatu negara. Dengan menggunakan formula yang unik, negara dengan teknologi canggih dapat mengalahkan negara yang lebih besar. Dalam penyusunan peringkat ini tidak hanya mengukur jumlah senjata, tetapi juga lokasi geografis, kekuatan personel dan stabilitas keuangan. Kepemilikan senjata nuklir atau rudal tidak dipertimbangkan dalam PwrIndx ini.

Bagaimana perbandingan kekuatan militer negara-negara ASEAN pada lima besar?

1.    Indonesia

  • Populasi: 262 juta (130 juta pekerja tersedia, 108 juta siap gerak). 
  • Personel militer: 800 ribu (400 ribu personel aktif, 400 ribu personel cadangan). 
  • Tentara: 315 tank tempur, 
  • 1.300 kendaraan tempur, 
  • 141 artileri otomatis, 356 artileri manual, 
  • 36 peluncur rudal. 
  • Angkatan Udara: 
  • 41 pesawat tempur, 
  • 65 pesawat serang, 
  • 62 pesawat angkut, 
  • 104 pesawat latih, 
  • 192 helikopter, 
  • 8 helikopter serang. 
  • Angkatan Laut: 
  • 8 fregat, 
  • 24 korvet, 
  • 5 kapal selam, 
  • 139 kapal patroli, 
  • 11 penyapu ranjau. 
  • Cadangan sumber bahan bakar: 3,2 miliar barel. 
  • Logistik: 126 juta pekerja, 
  • 8 ribu kapal dagang, 
  • 14 pelabuhan utama, 
  • 437 ribu km jalan, 
  • 5 ribu km rel, 673 bandara. 
  • Keuangan: 
  • Anggaran pertahanan (USD 6,9 miliar / tahun), devisa dan emas (USD 130 miliar)

 2.    Vietnam (peringkat 23 dunia)

  • Populasi: 97 juta (51 juta tersedia, 41 juta siap gerak). 
  • Personel militer: 5,4 juta (482 ribu personel aktif, 5 juta personel cadangan). 
  • Tentara: 2.575 tank tempur, 
  • 2.530 kendaraan tempur, 
  • 120 artileri otomatis, 
  • 350 artileri manual, 
  • 150 peluncur rudal. 
  • Angkatan Udara: 
  • 108 pesawat tempur, 
  • 108 pesawat serang, 
  • 38 pesawat angkut, 
  • 29 pesawat latih, 
  • 140 helikopter, 
  • 25 helikopter serang. 
  • Angkatan Laut: 
  • 9 fregat, 
  • 14 korvet, 
  • 6 kapal selam, 
  • 26 kapal patroli, 
  • 8 penyapu ranjau. 
  • Cadangan sumber bahan bakar: 4,4 miliar barel. 
  • Logistik: 56 juta pekerja, 
  • 1.818 kapal dagang, 
  • 6 pelabuhan utama, 
  • 180 ribu km jalan, 
  • 2,6 ribu km rel kereta api, 
  • 45 bandara. 
  • Keuangan: 
  • Anggaran pertahanan (USD 3,3 miliar / tahun), cadangan devisa dan emas (USD 49 miliar)

 3.    Thailand (peringkat 26 dunia)

  • Populasi: 68 juta (35 juta tersedia, 27 juta siap gerak). 
  • Personel militer: 605 ribu (360 ribu personel aktif, 240 ribu personel cadangan). 
  • Tentara: 805 tank tempur, 
  • 1.551 kendaraan tempur, 
  • 44 artileri otomatis, 
  • 700 buah artileri manual, 
  • 30 peluncur rudal. 
  • Angkatan Udara: 
  • 75 pesawat tempur, 
  • 93 pesawat serang, 
  • 48 pesawat angkut, 
  • 156 pesawat latih, 
  • 304 helikopter, 
  • 7 helikopter serang. 
  • Angkatan Laut: 
  • 7 fregat, 
  • 7 korvet, 
  • 0 kapal selam, 
  • 42 kapal patroli, 
  • 7 kapal penyapu ranjau. 
  • Cadangan sumber bahan bakar: 396 juta barel. 
  • Logistik: 38 juta pekerja, 
  • 781 kapal dagang, 
  • 5 pelabuhan utama, 
  • 180 ribu km jalan, 
  • 4 ribu km rel kereta, 
  • 101 bandara. 
  • Keuangan
  • Anggaran pertahanan (USD 5,3 miliar / tahun), devisa dan emas (USD 202 miliar)

4.    Myanmar (ke-37 di dunia)

  • Populasi: 55 juta (30 juta pekerja tersedia, 21 juta siap gerak). 
  • Personel militer: 406 ribu (semua aktif). 
  • Tentara: 434 tank tempur, 
  • 1.300 kendaraan tempur, 
  • 108 artileri otomatis, 
  • 1.582 artileri manual, 
  • 114 peluncur rudal. 
  • Angkatan Udara: 
  • 276 pesawat tempur, 
  • 59 pesawat serang, 
  • 25 pesawat angkut, 
  • 80 pesawat latih, 
  • 86 helikopter, 
  • 9 helikopter serang. 
  • Angkatan Laut: 
  • 5 fregat, 
  • 3 korvet, 
  • 0 kapal selam, 
  • 65 kapal patroli, 
  • 11 penyapu ranjau. 
  • Cadangan sumber bahan bakar: 139 juta barel. 
  • Logistik: 22 juta pekerja, 
  • 97 kapal dagang, 
  • 3 pelabuhan utama, 
  • 34 ribu km jalan, 5 ribu km rel kereta, 
  • 64 bandara. 
  • Keuangan: 
  • Anggaran pertahanan
    (USD 2,4 miliar / tahun), devisa dan emas (USD 4,9 miliar)

 5.    Malaysia (peringkat 41 dunia)

  • Populasi: 31 juta (15 juta pekerja tersedia, 12 juta siap gerak). 
  • Personel militer: 410 ribu (110 ribu personel aktif, 300 ribu personel cadangan). 
  • Tentara: 74 tank tempur, 
  • 1.460 kendaraan tempur, 
  • 29 artileri otomatis, 
  • 211 unit artileri manual, 
  • 54 peluncur rudal. 
  • Angkatan Udara: 
  • 187 pesawat tempur, 
  • 39 pesawat serang, 
  • 52 pesawat angkut, 
  • 43 pesawat latih, 
  • 71 helikopter, 
  • 0 helikopter serang. 
  • Angkatan Laut
  • 6 fregat, 
  • 6 korvet, 
  • 2 kapal selam, 
  • 42 kapal patroli, 
  • 4 penyapu ranjau. 
  • Cadangan sumber bahan bakar: 3,6 juta barel. 
  • Logistik: 14,9 juta pekerja, 
  • 1.690 kapal dagang, 
  • 7 pelabuhan utama, 
  • 98 ribu km jalan, 
  • 1.849 ribu km rel kereta api, 
  • 114 bandara. 
  • Keuangan: 
  • Anggaran pertahanan (USD 4,7 miliar / tahun), devisa dan emas (USD 102 miliar)


Jumat, 17 Januari 2020

POROS MARITIM DUNIA : STRATEGI PERTAHANAN LAUT

Lukman Yudho Prakoso
Visi Poros Maritim Dunia telah menjadi Komitmen Nasional untuk Bangkit sebagai bangsa Maritim yang Berjaya.  Salah satu pilarnya adalah Pertahanan Maritim.  Berikut tulisan saya tentang Strategi Pertahanan Laut dalam mendukung POROS MARITIM DUNIA.  selanjutnya...


Jumat, 10 Januari 2020

POLUGRI BEBAS AKTIF: MASIH RELEVANKAH?

Oleh Zhafirah - Januari 24, 2017
Indonesia menganut prisip politik luar negeri yang kita kenal dengan “bebas aktif”. Prinsip ini pertama kali muncul dalam pidato Wakil Presiden Mohammad Hatta yang berjudul “Mendayung di antara Dua Karang”. Pidato tersbut, Hatta menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara berdaulat yang bebas untuk menentukan nasibnya sendiri. Setelah Perang Dingin pecah, dunia seolah dipaksa untuk memilih antara dua blok (Amerika atau Uni Soviet), hal ini menjadikan negara yang memihak pada satu blok cenderung menjadi aktor pasif. Sementara dalam pidatonya, Hatta menegaskan bahwa Indonesia harus berperan aktif dalam politik internasional. Oleh karenanya, politik luar negeri Indonesia harus didasarkan pada kepentingan negara sendiri, bukan digantungkan kepada politik luar negeri negara lain.

Pada intinya, Indonesia tidak boleh menjadi objek dalam politik internasional. Sebaliknya, Indonesia harus menjadi subjek yang memiliki hak untuk membuat pilihannya sendiri.

Dalam perjalanannya, prinsip politik luar negeri bebas aktif telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemimpin dalam Gerakan Non-Blok (GNB) tahun 1961. Pada masa itu, politik luar negeri Indonesia sangat menonjol dalam memproklamirkan penolakan terhadap salah satu blok. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia serius melaksanakan prinsip politik luar negeri bebas aktif-nya. Sayangnya, terjadi beberapa penyimpangan dalam menjalankan prinsip bebas aktif ini. Beberapa diantaranya adalah bergabungnya Indonesia dalam Nefo (New Emerging Forces) dan terbentuknya poros Jakarta-peking.

Ini tentunya menimbulkan pertanyaan: apakah prinsip politik luar negeri bebas aktif benar-benar cocok untuk Indonesia?

Tentu, kita mengetahui keuntungan dan peluang yang bisa Indonesia dapatkan dengan tidak memihak pada satu kubu tertentu. Indonesia bebas menentukan masa depan dan nasib bangsanya sendiri tanpa campur tangan bangsa atau negara lain. Bebas menentukan sikap apapun yang dilandasi Pancasila dan UUD 1945 dalam menghadapi berbagai masalah internasional. Indonesia dapat aktif dan berperan dalam menjaga dan menciptakan perdamaian dunia. Serta, Indonesia bebas ikut aktif dalam setiap kegiatan dan organisasi Internasional. Penerapan prinsip ini juga memudahkan Indonesia dalam membangun kepercayaan dan hubungan baik dengan negara lain.

Satu sisi, dunia politik internasional dinamis dan terus berubah seiring berjalannya waktu. Berakhirnya perang dingin lantas menaikkan status Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adidaya, kemudian muncul berbagai isu-isu kontemporer memaksa Indonesia perlu menyesuaikan kembali politik luar negerinya. Jika prinsip bebas aktif ini dapat memudahkan Indonesia dalam membangun kepercayaan dengan negara lain, prinsip ini juga dapat menimbulkan ketidakpercayaan negara lain terhadap Indonesia.

Contoh kasus manakala Indonesia dan Malaysia memperebutkan pulau sipadan dan ligitan. Malaysia tentu saja memiliki posisi yang lebih menguntungkan dibanding Indonesia. Seperti yang kita tahu bahwa Malaysia didukung oleh Inggris dan negara-negara commonwealth lainnya. Hal tersebut jelas merupakan suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh Indonesia--memiliki negara penyokong seperti Malaysia-Inggris.

Akan tetapi, bukan berarti Indonesia harus mengganti prinsip polugri bebas aktif yang selama ini dijalankan. Indonesia harus dapat menempatkan diri dalam perpolitikan internasional seraya membawa kepentingan bangsa dan negara. Jangan sampai Indonesia menjadi kapal yang terombang-ambing dan menabrak karang, padahal seharusnya Indonesia mampu mendayung diantara dua karang.